TEORI BARU INVESTASI: Mengapa Sepi dari Tanggapan?

Oleh: Drs. Hudiyanto -- Dosen FE-UMY, Staf Peneliti Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM

 

KRISIS DAN PIKIRAN KRITIS

Ketika terjadi krisis ekonomi berat (the great depression, malaisse) keberlanjutan, John Maynard Keynes mengkritisi keyakinan para ekonom sejak Adam Smith yang meyakini kebebasan sebebas-bebasnya dalam membangun ekonmi, dengan meminimalkan campur tangan dari pemerintah. Oleh Keynes diyakinkan bahwa teori yang sudah mendarah daging itu harus diubah dengan memberikan porsi tertentu bagi campur tangan pemerintah. Krisis memang mendorong orang untuk berpikir kritis. 

Menghadapi krisis ekonomi yang berkepanjangan di Indonesia Pak Muby muncul dengan sikap kritisnya yang menarik. Bukan sikap kritis atas masalah yang sifatnya praktis pelaksanaan kebijakan dengan mengemukakan argumen yang bisa diperdebatkan (sesuai dengan asumsi yang digunakan) seperti yang banyak diperdebatkan oleh para ekonom. Lebih dari itu sikap kritisnya bersifat otokritik sebagai seorang ekonom. Sikap kritis itu berawal dari ironi tetap psitifnya pertumbuhan ekonomi di tengah fakta empiris menurunnya apa yang disebut dengan investasi. Dari kenyataan itu lalu Pak Muby curiga dengan teori pertumbuhan ekonomi.

Kalau teori itu benar dan investasi memang negatif, pasti pertumbuhan ekonmi akan negatif sehingga pertumbuhan ekonomi yang positif sebenarnya salah. Tetapi diyakini bahwa pertumbuhan ekonomi adalah faktual, demikian pula pertumbuhan negatif investasi faktual, sehingga pasti ada sesuatu yang salah dengan teorinya. Pemikiran kritis semacam ini tentu menarik karena refletif dan menawarkan cara berpikir yang alternatif.

 

DI SAAT KRISIS, MENGAPA BICARA TEORI?

Sebagian orang mengatakan, dalam masa krisis tidka diperlukan perdebatan aspek teoritis karena yang diperlukan oleh rakyat adalahkebijakan praktis. Pendapat ini benar apabila pendapat dan kebijakan pemerintah tidak dilandaskan atas penerapan teori ekonmi. Tetapi dalam kenyataan pendapat dan kebijakan pemerintah tergantung padqa simulasi (otak-atik angka) yang dilakukan oleh para ekonom dengan teori ekonominya. Simulasi ekonomi (pertumbuhan ekonomi) akan memunculkan kebijakan yang benar-tidaknya atau tepat-melencengnya sangat tergantung pada pengertian variabel-variabel ekonmi dan asumsi yang digunakan. Hasilnya akan mempunyai implikasi yang luas.

Dalam hal investasi misalnya, kesalahan pendefinisian atau perumusan tentang Investasi sebagai sumber pertumbuhan ekonomi akan berdampak antara lain pada arah investasi (konkret atau rakyat), rasa rendah diri terhadap asing (modal asing), dan meremehkan kekuatan diri sendiri (rakyat), dan berbagai hal lain. Nah, Pak Muby melihat bahwa otak-atik angka atau simulasi itu menggunakan angka atau bahkan variabel yang salah sehingga hasil dengan segala implikasi kebijakannya menjadi salah arah. Akhirnya alokasi dana negara dan masyarakat akan menjadi amat mubadzir. Bahkan bukan sekedar sia-sia (mubadzir) melainkan lebih dari itu, memerosokkan! Oleh karena itu harus diyakini bahwa perdebatan teoritik seperti yang dikemukakan Pak Muby amat penting bagi pengambilan keputusan yang praktis oleh pemerintah.

 

TETAPI, MENGAPA SEPI TANGGAPAN?

Tulisan tentang masalah Investasi dari Pak Muby di Kompas yang sepi dari tanggapan para ekonom oleh karenanya amat mengherankan dan memprihatinkan. Secara kasat mata kita dan para ekonom tahu persis bahwa aktivitas investasi amat merakyat. Pembelian barang konsumsi yang dimasukkan dalam C (konsumsi) jelas mengandung unsur investasi. Jelas bahwa banyak investasi dari 30 usaha mikro tidak masuk hitungan I (investasi). Tetapi fakta empirik yang tidak perlu diperdebatkan lagi itu ternyata tak pernah mengusik ekonom untuk tersentak dengan masalah ini, baik yang pro maupun yang kontra. Ada dua kemungkinan. Pertama, para ekonom tak merasa bahwa landasan berpijak dari berbagai simulasinya “telah runtuh digali orang”. Atau, kedua, para ekonom tidak siap dengan cara menghitung yang baru dari investasi sehingga meskipun tahu landasan pijaknya telah runtuh, tetap saja “still yakin”. Dua kemungkinan yang sama-sama menunjukkan kekerdilan.

 

MENGAPA HARUS PAK MUBY (SENDIRI)?

Pertanyaan ini tidak substantif tetapi mungkin amat penting. Kalau pemikiran Pak Muby tidak lagu (ditanggapi) para ekonom, barangkali merupakan sesuatu yang wajar. Tetapi sebagai otokritik kita adalah mengapa kita yang merupakan orang-orang yang merasa muridnya atau yang oleh Pak Muby dimuridkan ternyata juga tidak ada tanggapan yang kemudian secara antusias mendalami hal yang telah terang benderang. Dua puluh tahun lebih pemikiran tentang ekonomi Pancasila telah berkembang amat pesat sampai dengan pemikiran yang operasional seperti soal investasi ini. Tetapi mengapa harus Pak Muby sendiri yang selalu menemukan, mengkritisi, dan mengemukakan hal-hal yang baru? Mengapa bukan oleh kami? Pikiran progresif dan kritis atas sebuah kemapanan dengan melakukan refleksi teoritis pada umumnya dilakukan oleh yang muda. Mengapa dalam kasus ini yang muda tetap saja dalam kemapanannya? Pak Muby selalu memberikan alternatif berpikir. Sampai kini, mengapa kita tidak mampu bersikap kritis melakukan refleksi atas teori yang kita pelajari?

 

Yogyakarta, 1 April 2003

 

*) Disampaikan pada Seminar Bulanan ke-3 PUSTEP-UGM, Yogyakarta 1 April 2003.

 

Kembali ke Menu Sebelumnya...

 


Copyright © 2006 Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan - Universitas Gadjah Mada
website: http://www.ekonomikerakyatan.ugm.ac.id/ 
e-mail: ekonomikerakyatan@ugm.ac.id