ASUMSI HOMO EKONOMIKUS DAN MANUSIA RASIONAL DIPERTANYAKAN[1]   

Oleh: Drs. Edy Suandi Hamid, M.Ec -- Pengajar FE-UII Yogyakarta, Staf Peneliti PUSTEP-UGM

 

“Ekonomi yang ‘murtad’[2] (heterodox economist) layak mendapat acungan jempol (deserve credit),” demikian tulis The Economist (10 Mei 2003). Mengapa? Ini berkaitan dengan ditawarkannya mata kuliah pengantar ekonomi alternatif di fakultas ekonom terkemuka di dunia, Harvard University. Pengajarnya Martien Feldstein, mantan penasihat ekonomi Presiden AS Ronald Reagan. Asumsi dasar pengajaran ini bertolak belakang dengan apa yang diajarkan oleh ekonom neo-klasik. Dengan menggunakan pendekatan psikologi, para ekonom ini menolak konsep homo-ekonomikus, yang selalu menganggap manusia bertindak rasional. Jika konsep ini diterima, maka dampaknya akan sangat luas bagi pengajaran ilmu ekonomi yang saat ini berbasis ekonomi neo-klasik. Acungan jempol diberikan karena mereka menawarkan kepada ‘konsumennya’ (mahasiswa) suatu pelajaran alternatif tentang apa yang terbaik bagi mereka untuk diketahui.

 1] Sumber utama tulisan ini dari “behaviourist at the gates” dalam The Economist, 10 Mei 2003. tulisan pendek ini sebagai bahan pelengkap Seminar Bulanan ke-5 PUSTEP-UGM, 3 Juni 2003.

2] Istilah ini sebagai terjemahan dari heterodox dan dissident economist. Mungkin juga bisa digunakan istilah ekonom pembaharu, yang pemikirannya berbeda dengan kebiasaan yang ada atau di luar mainstream economist

Tulisan dalam rubrik ‘Fokus Ekonomi’ dengan tajuk “Behaviourist at the Gates” tersebut menjelaskan bagaimana para ekonom menggunakan psikologi untuk mempertanyakan resep-resep kebijakan dari ekonm ortodox (konvensional). Ketidakpuasan semacam ini sebetulnya sesuatu yang sudah mucnul cukup lama. Letupan-letupan ketidakpuasan para ekonom konvensional itu kemudian memunculkan berbagai konsep ilmu ekonomi alternatif, seperti Ekonomi Kelembagaan (Kenneth Building), Ekonomika Strukturalis (Raul Prebisch), serta Ekonomika Islami yang digali oleh ekonom-ekonom muslim (Dumairy, 2003: 1-2). Di Indonesia sejak awal 1980-an ketidakpuasan atas teori ekonomi konvensional itu sudah diwacanakan oleh Prof. Dr. Mubyarto, dan kini dikembangkan melalui PUSTEP (Pusat Studi Ekonomi Pancasila) UGM.

Ditawarkannya mata kuliah pengantar ekonomi alternatif di Harvard tersebut menunjukkan bahwa apa yang dilakukan dengan mengkaji dan merumuskan sistem ekonomi alternatif melalui Ekonomi Pancasila bukanlah sesuatu yang aneh dan mengada-ada. Kebutuhan akan ekonomi alternatif ini juga muncul di kampus-kampus di Amerika di mana sebagian besar mahasiswa pertama kali memperoleh pengajaran mengenai konsep homo-ekonomikus. Walaupun yang diajarkan para ekonom yang ‘murtad’ (dissident economist) ini lebih jelas dibanding neo-klasik yang tidak rinci dalam menjelaskan perilaku manusia dalam dunia nyata, namun menurut The Economist, sejauh ini hasilnya masih terbatas. Pelajaran ekonmi masih didominasi materi dengan rumus-rumus matematik yang seolah tak mungkin salah, yang pelakunya –“agents” dan “actors”- selalu berperilaku rasional, merekomendasikan perdagangan bebas, pembatasan peran pemerintah, dan pajak yang rendah.

Ide tentang teori ekonomi perilaku (behavioral economics) sebagian besar datang dari Daniel Kahneman, psikolog yang tahun lalu memperoleh Nobel dalam bidang ekonomi. Berbeda dengan ajaran Neo-klasik, ekonomi perilaku ini menganggap bahwa manusia tidak selalu bertindak rasional. Orang mungkin mengabaikan risiko, dan mengambil langkah untung-untungan. Manusia mungkin tidak tahu bagaimana mengalokasikan uangnya untuk mencapai kepuasan maksimum. Lebih dari itu manusia tidka melulu bersifat mementingkan diri sendiri atau serakah (selfish) orang tua rela berkorban untuk anaknya; dan orang menyumbang untuk kegiatan sosial atau keagamaan tanpa mengharapkan keuntungan apapun.

Anggapan manusia yang selfish telah menjadikan ilmu ekonomi mengajarkan manusia untuk selalu ‘berperang’ 9kompetisi) satu dengan lainnya, mengajarkan ‘keserakahan’ yang diperhalus dengan kata kemakmuran. Kenyataannya manusia tidak selalu demikian. Manusia bisa bekerja sama (co-operation) untuk memenuhi kebutuhannya, mengedepankan keadilan ketimbang efisiensi, atau memasukkan pertimbangan moral dan etika dalam mengambil keputusan ekonmi. Karenanya ilmu ekonomi pun seharusnya bisa mengajarkan tentang konsep kerja sama untuk mencapai kemakmuran bersama bukan keserakahan individual.

Banyak hal dari ajaran ekonmi ortodoks yang digugat oleh ekonom heterodoks (nonortodoks). Menurut mereka, teori dasar tentang kurva permintaan dan penawaran tidak akan banyak artinya, karena orang tidak selalu mampu menghitung uang yang dengan rela ia keluarkan untuk sesuatu kebutuhan. Padahal banyak sekali teori-teori ekonomi yang menggunakan pendekatan atau dasar teori tersebut. Untuk menghitung kenaikan biaya karena pajak, misalnya, juga trgantung pada kedua kurva tersebut. Perdagangan bebas, misalhnya direkomendasikan berdasarkan manfaat yang diperoleh akibat turunnya bea masuk dibandingkan dengan biaya akibat hilangnya pekerjaan bagi industri yang tersaingi. Namun jika itu semua tidak bisa dihitung, maka rasionalitas di balik teori itu tidak ada artinya.

Diajarkannya pemikiran ekonmi alternatif di Harvard merupakan angin segar bagi berkembangnya pemikiran-pemikiran ekonom di luar arus utama. Sebagian ekonom mungkin tak lagi terpaku dengan model-model ekonometrik yang canggih untuk menjelaskan fenomena ekonomi, menyusun suatu kebijakan, atau meramal masa depan perekonmian. Stephen Marglin, Guru Besar di Universitas Harvard yang disebutkan di atas merupakan pengusul pengajaran pengantar ekonomi yang nonkonvensional tersebut, yang lebih mendorong mahasiswanya untuk membaca tulisan-tulisan mengenai nasib pekerja teksil di AS yang menganggur gara-gara NAFTA ketimbang mengkaji secara ekonometrika manfaat kerjasama dari perjanjian tersebut bagi AS dan Mexico.

3 Juni 2003

 

Kembali ke Menu Sebelumnya...

 


Copyright © 2006 Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan - Universitas Gadjah Mada
website: http://www.ekonomikerakyatan.ugm.ac.id/ 
e-mail: ekonomikerakyatan@ugm.ac.id