BIOEKONOMI, EKONOMI MASYARAKAT DAN KEPENDUDUKAN: Dalam  Kaitannya dengan Upaya Membantu Pemerintah RI Mengatasi Keterpurukan Sektor Riil dan Menghadapi Tantangan di Masa Datang[1] 

Oleh: Ir. Hani Putranto -- Sarjana Teknologi Pertanian UGM, Praktisi, Penulis buku "Herucakra Society: Jalan Ketiga Ekonomi Dunia". 

 

[1] Disampaikan dalam Seminar Bulanan ke-22 Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM dengan tema “Biososioekonomi dan Ekonomi Pancasila” 2 November 2004.

Istilah ekonomi sering dikonotasikan dengan ekonomisme dan dikesankan sebagai upaya mencari keuntungan bagi diri sendiri. Padahal arti ekonomi sendiri adalah “seseorang yang mengelola” atau “yang disebut pengurus atau pelayan” (Curry, 1991:1). Kemudian muncul istilah ekonomi individu, keluarga, kota, atau ekonomi negara.  Salah satu akibat dari konotasi negatif ini adalah mereka yang bergerak dalam bidang sosial sering tidak bisa menerjemahkan atau merumuskan tindakan sosial dalam bahasa ekonomi atau accountable secara ekonomi. Upaya meredistribusikan kekayaan kadang terganjal oleh ketakutan akan terjadinya kemalasan bagi mereka yang memperoleh distibusi kekayaan atau ketakutan tejadinya inflasi sebagai akibat dari meningkatnya pendapatan individu secara keseluruhan.

Upaya memadukan atau mendamaikan ilmu ekonomi dengan sosiologi seperti ajakan Prof. Dr. Mubyarto (Kompas, 17/09/02: “Ekonofisika atau Sosioekonomi, Mana yang Dibutuhkan Indonesia?”) seperti kurang mendapat sambutan. Padahal banyak pemikir ekonomi seperti Adam Smith dan Karl Marx yang menaruh perhatian pada masalah-masalah sosial pada jamannya.

 

Bioekonomi Sebagai Ilmu Ekonomi Masyarakat

Ekonomi masyarakat yang dimaksud di sini bukan ekonominya tukang gado-gado atau petani kecil. Ekonomi jenis ini adalah ekonomi individu atau rumah tangga. Kalau ekonomi individu atau rumah tangga berorientasi pada keuntungan individu atau rumah tangga maka ekonomi masyarakat berorientasi pada manfaat atau “keuntungan” masyarakat secara keseluruhan jadi bersifat sosial juga.

Dengan penjelasan sepeti ini maka ekonom Hernando de Soto lebih mengarah sebagai pemikir ekonomi individu atau rumah tangga. Sementara itu Robert T Kiyosaki yang buku-bukunya laris kurang tepat bila dikategorikan pemikir ekonomi tetapi lebih tepat dikatakan sebagai guru investasi atau guru pengembangan diri untuk menuju kebebasan finansial. Meskipun Robert T Kiyosaki kurang tepat dikatakan sebagai pemikir ekonomi tetapi nasihat-nasihatnya dalam mengelola dan mengembangkan ekonomi individu atau rumah tangga patut mendapat perhatian dan pujian.

Menurut Robert T Kiyosaki kalau kita ingin mengelola ekonomi individu kita, kita harus menjadi bank (Kiyosaki, hal 222) dan yang kita butuhkan adalah neraca seperti halnya neraca bank yang menggambarkan aset dan liabilitas secara jelas.Sesuatu yang bagi pihak lain adalah aset mungkin bagi kita sebagai individu adalah liabilitas. Kalau kita membeli properti dengan cara kredit maka properti itu bukan aset kita tetapi aset bank yang mengucurkan kredit pembelian properti itu.  Bagi kita, properti atau hipotek itu adalah liabilitas. Uang kertas yang kita miliki adalah aset kita tetapi itu bagi bank sentral adalah liabilitas.

Demikian pula kalau masyarakat ingin mengelola perekonomiannya dengan baik maka yang diperlukan adalah neraca yang bisa menggambarkan apa yang menjadi aset masyarakat dan apa yang menjadi liabilitas. Teori bioekonomi (yang sebenarnya kependekan dari biososioekonomi) telah dengan jelas merumuskan neraca tersebut yang disebut Neraca Herucakra Society. Lihat Tabel

Aset

Liabilitas

Testamen daur ulang yang berada di tangan yayasan pengelola :

·         Deposito

·         Saham

·         Valas ( mata uang kuat dunia )

·         Properti

·         Dll

 Dana yang dihibahkan kepada Bank Sentral

 Dana milik organisasi non pemerintah (ornop) yang mengikuti hukum karitas dan keadilan

Semua hak milik Individu :

 ·         Deposito

·         Saham

·         Valas ( mata uang kuat dunia )

·         Properti

·         Dll

 HAKI milik individu yang masih hidup atau yang diwariskan

 Dana milik ornop yang mengikuti hukum ekonomi bisnis

            Sumber : Hani Putranto (2004)

 Kekayaan daur ulang adalah kekayaan individu manusia  yang tidak diwariskan kepada anak cucu tetapi didaur ulang untuk membiayai berbagai jaminan sosial (pendidikan gratis, kesehatan, food stamps) serta menjaga stabilitas ekonomi dan moneter. Rumusan ini dimungkinkan karena menurut teori bioekonomi kelahiran adalah hutang yang harus dibayar dengan kematian. Konsekuensinya semua hak milik individu adalah hutang bagi alam atau bagi masyarakat. Uang kertas yang kita miliki selain sebagai liabilitas bagi bank sentral juga adalah liabilitas bagi masyarakat.

Neraca ini tidak harus menghasilkan nilai bersih yang surplus tetapi paling tidak defisitnya tidak terlalu besar atau defisitnya tidak disebabkan oleh pewarisan kekayaan atau decomposition time nol. Dengan berpedoman pada neraca inilah kita bisa mengelola perekonomian masyarakat sehingga bermanfaat bagi masyarakat luas.

Kalau kekayaan terakumulasi dalam diri individu selama 40 tahun maka decomposition time-nya adalah juga 40 tahun. Decomposition time adalah waktu yang diperlukan untuk menghabiskan kekayaan tersebut terdistribusi. Decomposition time nol atau distribusi sekejap akan menyebabkan neraca defisit.

 

Indikator Ekonomi Masyarakat dan Kependudukan

Indikator Ekonomi Masyarakat

Selain neraca di atas ada beberapa indikator yang bisa dipakai sebagai pedoman untuk menilai apakah fundamental ekonomi masyarakat baik atau tidak yaitu

1.       PIT atau Persentase Individu yang Tumbuh

Angka ini menunjukkan berapa persen individu usia produktif lepas sekolah yang mampu meningkatkan pendapatannya atau meningkatkan akumulasi aset individunya. Secara teoritis angkanya berkisar lebih dari 0 % sampai dengan 100 %. Kalau PIT besar berarti semua individu bisa tumbuh. Kalau PIT kecil berarti ada individu-individu yang tidak bisa tumbuh, terbonsai, merana, atau bahkan mati. Kalau daur ulang kekayaan terjadi maka angka PIT bisa tinggi mendekati 100% meskipun pertumbuhan ekonomi nol persen (Putranto, 2004).

2.       PS atau Persentase Siswa yang Mendapat Paket Beasiswa

Rumusan PS adalah

PS = SS/TS x  100%

PS = persentase siswa yang mendapat paket beasiswa dengan cara bioekonomi

SS = jumlah siswa yang mendapat paket beasiswa dengan cara bioekonomi

            TS = total anak usia sekolah

Kalau seorang individu yang akan mendaur ulang kekayaan hanya memiliki kekayaan yang tidak banyak yang cukup untuk memberi jaminan (termasuk beasiswa) 20 orang selama decomposition time-nya, maka kekayaan tersebut tidak perlu didistribusikan kepada sebanyak mungkin orang dalam waktu sekejap, karena hal ini akan menyebabkan neraca di atas defisit. Dengan demikian ukuran PS ini bisa dijadikan indikator kemapanan sistem, kalau PS besar (100%) berarti sistem daur ulang kekayaan sudah mapan.

3.       Aset Per Kapita (AK)

Aset per kapita merupakan rata-rata aset per kapita yaitu jumlah aset dibagi populasi atau jumlah penduduk. Aset per kapita bisa dibedakan menjadi tiga yaitu aset individu per kapita yang merupakan ukuran jumlah aset individu per penduduk. Dalam neraca herucakra society jumlah aset individu bisa dilihat pada kolom jumlah liabilitas. Yang kedua adalah aset masyarakat per kapita yaitu jumlah aset masyarakat dibagi penduduk. Yang ketiga adalah aset ideal per kapita yaitu apabila jumlah aset dan liabilitas dalam neraca herucakra society sama maka bila dibagi jumlah penduduk akan dihasilkan aset ideal per kapita. Dengan mengetahui aset per kapita kita bisa melihat dengan jelas perbedaan antara ekonomi individu dengan ekonomi masyarakat.

Selain itu juga dapat dilihat kaitan antara ilmu ekonomi dan ilmu kependudukan secara sederhana. Dari rumusan dasar teori bioekonomi yaitu bahwa kelahiran adalah hutang yang harus dibayar dengan kematian, maka kalau tidak ingin jumlah hutang semakin membengkak, jumlah kelahiran maksimum harus sama dengan jumlah kematian atau dengan kata lain pertumbuhan penduduk maksimum harus 0 %. Aset masyarakat per kapita juga meningkat bila terjadi pertumbuhan penduduk negatif. Sebagai contoh jika aset emas per kapita 100 gram, angka ini bisa meningkat, misalnya menjadi 101 gram per kapita, bila jumlah penduduk berkurang.

 

Program Pengendalian Pertumbuhan  Penduduk

Menurut Susan George dalam bukunya The Lugano Report, kalau kapitalisme global ingin dipertahankan maka jumlah penduduk dunia idealnya adalah 4 miliar. Saat ini jumlah penduduk dunia adalah 6 miliar dan tahun 2020 diperkirakan menjadi 8 miliar ( B. Hari Juliawan, 2004:9-10). Dengan ditemukannya teori bioekonomi, angka 4 miliar ini perlu dihitung kembali. Pada dasarnya sesuai dengan teori bioekonomi, pertumbuhan penduduk positif adalah beban bagi alam sehingga perlu dipertimbangkan program negative population growth. Satu keluarga disarankan maksimum hanya memiliki satu anak.

Selain kendala sosial budaya, program negative population growth juga terkendala faktor ekonomi bila kita menggunakan paradigma teori ekonomi lama. Bahwa seorang anak dijadikan jaminan hari tua di berbagai negara memang adalah kenyataan. Dengan teori bioekonomi kendala ini mestinya bisa diatasi.

Dengan bioekonomi setiap anak bisa diupayakan mendapat paket beasiswa sampai dengan lulus S1. Bila suatu keluarga merencanakan tidak memiliki anak sama sekali mereka bisa mengambil paket beasiswa yang seharusnya menjadi jatah kedua anaknya tersebut sebagai jaminan pensiun. Dengan demikian program negative population growth atau satu keluarga maksimum satu anak bisa terpenuhi paling sedikit mendekati kenyataan. Semakin sedikit jumlah anak yang direncanakan semakin besar jaminan pensiunnya sehingga kesejahteraan penduduk usia lanjut tetap terjaga.

 

Bioekonomi dan Masa Depan Indonesia

Meskipun indikator-indikator ekonomi makro Indonesia cukup bagus (menurut paradigma teori ekonomi lama) tetapi bukan berarti kondisi ekonomi Indonesia menggembirakan. Berbagai tantangan dan permasalahan di masa depan tetap berat. Namun itu semua tidak boleh dibebankan kepada eksekutif atau pemerintah karena bagaimanapun kapasitas eksekutif terbatas pada teori atau paradigma ekonomi yang selama ini dikenal. Di sinilah teori bioekonomi sebagai mazhab baru dalam pemikiran ekonomi bisa ikut beperan dalam mensejahterakan masyarakat, lepas dari kebijakan ekonomi pemerintah.

Berbagai permasalahan yang dihadapi Indonesia adalah pengangguran, kemiskinan, daya beli rendah, jatuh tempo hutang dan obligasi pemerintah yang harus segera dibayar, gejolak harga minyak, dan biaya pendidikan mahal yang harus ditanggung orang tua siswa. Meskipun berbagai usulan telah diajukan kepada pemerintah baru, perlu kiranya kita mendengar usulan filsafat bioekonomi dalam mengatasi berbagai masalah ini.

Untuk mengatasi berbagai masalah ini, dan juga berbagai masalah ekonomi di dunia, yang diperlukan adalah daur ulang kekayaan untuk memberikan beasiswa kepada berjuta siswa dan untuk memperbaiki kondisi moneter. Program pendidikan murah atau beasiswa yang selama ini ada tidak sesuai dengan prinsip-prinsip teori bioekonomi. Pertama, dalam sistem seperti itu fasilitas atau jaminan pendidikan terhenti bila seorang siswa hanya mampu menamatkan sekolahnya sampai SMP atau SMU. Padahal mereka yang pendidikannya rendah justru harus mendapatkan perhatian serius manakala sudah tua dan tidak sanggup bekerja. Kedua, program beasiswa hanya ditujukan kepada mereka yang pintar atau yang orang tuanya miskin sehingga tidak memiliki dampak ekonomi yang signifikan bagi negara atau masyarakat.

Pogram beasiswa berjuta siwa dalam naungan filsafat bioekonomi memiliki arti dan dampak ekonomi yang nyata, karena dilaksanakan secara besar-besaran untuk menjangkau semua anak usia sekolah tidak peduli bodoh atau pintar, anak orang kaya atau miskin. Dalam sistem ini setiap paket beasiswa hendaknya sampai lulus S1. Kalau ada anak yang karena kemampuan atau minatnya hanya sampai tamat SMP misalnya, mereka bisa mengambil sisa jatah beasiswa kelak sebagai uang pensiun. Tentu saja program ini juga tetap memperhatikan decomposition time. Dengan program seperti ini maka bisa dicegah semua anak berlomba menjadi sarjana. Tetap harus ada peluang bagi yang berminat menekuni profesi sebagai petani padi.

Bila program daur ulang kekayaan dan beasiswa berjuta siswa ini bisa bejalan ada beberapa dampak positif yang bisa dinikmati masyarakat.

1.       Memperkecil Dampak Buruk Kenaikan Harga BBM

Harga minyak yang sangat tinggi akan memaksa pemerintah RI menghilangkan atau paling tidak mengurangi subsidi sehingga pasti akan menaikkan harga BBM. Kenaikan ini di samping memiliki dampak politis negatif juga berdampak sosial yang membuat rakyat kecil sengsara. Dengan program  beasiswa berjuta siswa maka beban rakyat akan berkurang secara signigfikan. Lebih-lebih mereka yang memperoleh keringanan beban adalah keluarga-keluarga yang anak-anaknya masih bersekolah. Selain itu program beasiswa berjuta siswa ini juga akan mengurangi rangsangan bagi serikat pekerja untuk berdemo menuntut kenaikan upah, sehingga akan membantu menekan inflasi. Dalam paradigma ekonomi yang lama kenaikan upah pekerja dan inflasi sering kejar-kejaran. Dengan terjaminnya beasiswa anak, upah pekerja untuk pekerjaan tertentu yang statis seperti operator mesin atau satpam perusahaan bisa dipatok tetap tidak tergantung masa kerjanya. Sebagai  contoh upah operator mesin pabrik tingkat trampil (setelah 3 tahun bekerja) adalah Rp 800.000,- Tidak ada alasan meminta kenaikan upah setelah 10 tahun bekerja karena beaya sekolah anak sudah dijamin masyarakat.

 

2.       Menggerakkan Sektor Riil dan UKM

Dampak yang paling signifikan dengan adanya daur ulang kekayaan adalah distribusi kekayaan. Kalau seseorang mendapat warisan deposito Rp 100 milyar misalnya, uang sebesar itu tidak mungkin dipakai untuk membeli puluhan koran, buku, dibelanjakan untuk mengkonsumsi puluhan cangkir kopi setiap hari, meskipun daya belinya tinggi. Uang sebesar itu hanya akan berputar-putar dari instrumen investasi yang satu ke instrumen investasi yang lain, dan tidak menimbulkan efek signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja dan bergeraknya sektor riil. Kalau uang sebesar itu terdistribusi kepada banyak orang melalui program beasiswa, maka akan meningkatkan daya beli masyarakat. Uang yang biasanya dipakai untuk membiayai pendidikan anak bisa dipakai untuk belanja (membeli koran, buku, kerajinan tangan, memakai jasa taksi atau baby sitter), ditabung, atau dipakai untuk menambah modal usaha sesuai kondisi masing-masing keluarga.

Distribusi konsumsi dan tabungan ini pada gilirinnya akan menggerakkan sektor riil dan menyerap tenaga kerja secara signifikan. Di samping itu distribusi kekayaan juga akan mendekatkan “UKM” pada akses modal langsung. Seorang pelaku bisnis “UKM” bisa meminjam modal dari teman, kenalan, atau kerabatnya dengan bunga atau bagi hasil yang menguntungkan kedua belah pihak. Akumulasi kekayaan pada segelintir individu hanya akan menyebabkan pelaku bisnis “UKM” terpaku pada akses perbankan yang tidak selalu mudah.

3.       Meringankan Beban APBN

Untuk menerapkan teori bioekonomi di dalam masyarakat yang telah mapan, telah tersedia perangkat hukum untuk mengakomodasi partisipasi masyarakat yang ingin menghibahkan sebagian kekayaan daur ulang kepada Bank Sentral. Hibah kepada Bank Sentral dan program beasiswa ini akan sangat meringankan APBN, karena beberapa beban yang seharusnya ditanggung negara bisa diatasi oleh masyarakat sendiri dengan kekayaan daur ulang.

Hal ini dapat membuat negara memfokuskan anggarannya untuk memperbaiki dan membangun infrastruktur yang memadai. Beberapa infrastruktur yang perlu diprioritaskan untuk dibangun misalnya yang berkaitan dengan revolusi energi dan efisiensi penggunaan BBM seperti infrastruktur untuk mendukung beroperasinya mass rapid transport seperti monorel di Jabotabek, jalur kereta api di luar Jawa, dan jalur kereta ganda di Jawa atau luar Jawa.

Negara juga memiliki nafas untuk melakukan reformasi perpajakan untuk mendorong investasi di bidang eksplorasi dan produksi minyak serta pembangunan kilang minyak.

4.       Memperbaiki Fundamental Moneter

Hibah kepada bank sentral juga akan memperkuat fundamental moneter dan mencegah depresiasi mata uang. Untuk itu negara harus mengakomodasi dengan perundang-undangan minat masyarakat yang ingin menghibahkan sebagian kekayaan daur ulangnya kepada bank sentral.

5.       Membantu Menyukseskan Program Pengendalian Populasi Penduduk

Mereka yang merencanakan tidak mempunyai anak bisa mengambil dua paket jatah beasiswa yang seharusnya untuk anak mereka untuk jaminan pensiun. Sedangkan yang merencanakan satu anak bisa mengambil jatah beasiswa untuk anak kedua sebagai jaminan pensiun. Hal ini akan membantu menekan pertumbuhan penduduk namun tetap menjaga kesejahteraan penduduk usia lanjut.

Bagaimana filsafat bioekonomi membantu pemerintah? Beberapa perhitungan teknis memang diperlukan.

Kunci kesejahteraan adalah daur ulang kekayaan. Bagaimana daur ulang kekayaan bisa terjadi secara legal dan damai bisa dibaca pada buku kami Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia.

 

Saran Pengembangan dan Pengkajian Lebih Lanjut

Meskipun filosofi dan landasan dasar teori bioekonomi (biososioekonomi) telah ditetapkan, namun masih banyak hal perlu dikembangkan atau dikaji lebih lanjut, misalnya menyangkut kebijakan moneter dan perhitungan teknis bila pertumbuhan penduduk dan ekonomi lebih dari nol persen. Penggunaan teknik dan prinsip-prinsip aktuaria mungkin diperlukan untuk memperkirakan jumlah anak usia sekolah yang bisa diberi beasiswa dari satu individu yang mendaur ulang kekayaannya.

Yang cukup menggairahkan dan menantang untuk diteliti dan dihitung ulang adalah angka ideal penduduk bumi yang menurut perhitungan Susan George adalah 4 milyar. Dengan ditemukannya bioekonomi mungkin angka tersebut bisa berbeda karena menurut paradigma bioekonomi, bila sistem ini sudah mapan, pertumbuhan ekonomi harus sekecil mungkin mendekati nol persen pada saat pertumbuhan penduduk nol persen.

 

Penutup

Benar seperti dikatakan Prof. Dr. Mubyarto bahwa yang terjadi saat ini  di Indonesia bukan krisis ekonomi tetapi krisis ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi yang dipakai selama ini telah gagal merumuskan hukum kelangkaan. Dua puluh lima ribu orang mati setiap hari di seluruh dunia karena kelaparan dan kemiskinan. Teori ekonomi yang lama juga telah gagal mencegah kemungkinan terjadinya over populasi penduduk dunia. Mengendalikan penduduk dunia sama pentingya dengan mengendalikan inflasi. Selama enam tahun terakhir di Indonesia telah terjadi empat kali pergantian presiden dan kabinet, tetapi teori ekonomi yang lama belum “rela” diganti. Hari-hari mendatang kita akan menghadapi protes rakyat karena beban hidup mereka meningkat. Siapa atau apa yang seharusnya diganti? Presiden atau teori ekonominya?

2 November 2004

 

Daftar Pustaka

 

Curry, Jeffry Edmund, MBA, PhD, 2001. Memahami Ekonomi Internasional, PPM Jakarta. Terj. Dari Short Course in International Economics, World Trade Press, 2000

de Soto, Hernando, 2000, The Mystery of Capital: Why Capitalism Triumphs in the West and Fails Everywhere Else, Black Swan, London.

Juliawan, B. Hari, 2004. “Keretaku Tak Berhenti Lama” Basis, Edisi 05-06 Th ke-53, hal 9-10, Mei-Juni 2004

Kiyosaki, Robert T and Sharon L Lechter. 2001 The Cashflow Quadrant, Panduan Ayah Kaya Menuju Kebebasan Finansial. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Terj. dari The Cashflow Quadrant, 1999

Kompas, 2004. “25.000 orang Meninggal Setiap Hari Karena Kelaparan dan Kemiskinan”, Kompas Edisi Kamis 17 Juni 2004

______, 2004. “Utang, Subsidi BBM, dan Krisis Fiskal” Kompas Edisi Sabtu 23 Oktober 2004

Mubyarto, 2004. Neoliberalisme & Krisis Ilmu Ekonomi, Aditya Media, Yogyakarta

Putranto, Hani. 2004. Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia, Wedatama Widya Sastra, Jakarta

Santoso, Iwan. 2004. “Peluang di Balik Lilitan Utang” Kompas, Edisi Sabtu, 23 Oktober 2004

***

 

Kembali ke Menu Sebelumnya...


Copyright © 2006 Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan - Universitas Gadjah Mada
website: http://www.ekonomikerakyatan.ugm.ac.id/ 
e-mail: ekonomikerakyatan@ugm.ac.id