|
SEMINAR NASIONAL EKONOMI KERAKYATAN:
KONSEPSI EKONOMI KERAKYATAN DALAM PENGELOLAAN
ASET (SDA) DAN PERUSAHAAN (BUMN) STRATEGIS BANGSA
Diselengarakan oleh PUSAT STUDI EKONOMI KERAKYATAN UGM
I.
LATAR BELAKANG
Harapan besar terjadinya perubahan ekonomi pasca
Pemilihan Umum sepanjang sejarah di era reformasi selalu diciutkan
dengan pemilihan tim ekonomi yang tetap saja searus dengan jalan
(ekonomi) neoliberal. Tak pelak kemudian jalan yang ditempuh selalu
adalah manifestasi Konsensus Washington, yaitu deregulasi,
liberalisasi, privatisasi, dan penghapusan subsidi.
Pilihan jalan liberalisasi dilakukan pada hampir semua
sektor vital ekonomi nasional sepertihalnya liberalisasi pertanian
yang dilakukan dengan membuka kran impor beras seluas-luasnya.
Akibatnya bukan saja petani lokal yang terpukul, tetapi
ketergantungan pangan kepada pihak luar dan korporasi asing yang
bergerak di sektor pertanian pun juga kian besar.
Tidak cukup hanya itu, liberalisasi migas pun dipaksakan
melalui penyerahan harga BBM pada mekanisme pasar (pengurangan
subsidi), keleluasaan ekspansi korporasi migas asing, dan kenaikan
harga BBM sebagai klimaksnya. Tak pelak, sektor riil mengalami
kemunduran dan terparah dialami industri dan pertanian rakyat.
Penguasaan modal internasional kiranya makin lengkap
dengan dilanjutkannya skema penggadaian aset-aset strategis dan
penjualan perusahaan nasional (BUMN).
Tak
kurang dilepasnya ladang migas Cepu oleh pemerintah makin
memerosotkan derajat kebangsaan ekonomi kita.
Proses ini terus berjalan dan diinginkan terus
berkelanjutan. Oleh karenanya, jalan deregulasi-lah yang juga
ditempuh oleh pemerintah.
Keleluasaan ekspansi modal internasional untuk menguasai kekayaan
Indonesia tidak cukup dilegalisasi melalui UU Sumber Daya Air dan UU
Migas, tetapi juga disempurnakan dengan UU Penanaman Modal yang
disahkan Maret 2007 yang lalu.
Di arus jalan neoliberal ini pulalah bangsa kita masih
terbenam pada jebakan utang luar negeri senilai 81,2 milyar US $.
Pemerintah memang membuat terobosan dengan membubarkan CGI, tetapi
tidak cukup konsisten untuk menahan agar bangsa kita tidak lagi
berutang ke luar negeri.
Stabilitas ekonomi makro kiranya belum mewujud pada
kemandirian dan kedaulatan ekonomi nasional. Alih-alih itu, jalan
ekonomi neoliberal kian mengarahkan kondisi (struktur) perekonomian
Indonesia ke dalam proses “asingisasi”. Jalan ekonomi neoliberal
pemerintah telah tidak dapat dibedakan secara jelas dengan jalan
ekonomi kolonial karena mengarahkan pada kembalinya kekuasaan modal
internasional yang telah coba dirubuhkan Bapak Pendiri Bangsa
melalui agenda nasionalisasi.
Kuatnya arus de-nasionalisasi ekonomi selama ini telah
membentuk kembali susunan ekonomi Indonesia di bawah dominasi
korporasi asing yang kini menguasai 85% konsesi pertambangan migas,
70% kepemilikan saham di Bursa Efek Jakarta, dan lebih dari separuh
kepemilikan perbankan di Indonesia (FRI, 2007).
Di sisi lain, jalan ekonomi neoliberal pemerintah telah
kian menjauh dari perwujudan ekonomi kerakyatan. Ketimpangan
struktural ekonomi Indonesia justru kian melebar. Pelaku ekonomi
rakyat (UMKM) Indonesia yang pada tahun 2006 berjumlah 48,9 juta
(99,9%) hanya menikmati 37,6% ”kue produksi nasional”, sedangkan
minoritas pelaku usaha besar (0,1%) justru menikmati 46,7%-nya pada
tahun yang sama. Hasil produksi yang dinikmati usaha besar
(korporasi) ini naik 3,6% dibanding tahun 2003 yang sebesar 43,1%.
Jalan ekonomi neoliberal telah meningkatkan kemiskinan
dari sebesar 16,7 % di tahun 2004 menjadi 17,75% pada tahun 2006.
Tingkat pengangguran pun juga meningkat dari sebesar 9,86% pada
tahun 2004 menjadi 10,84% pada tahun 2005. Pada saat yang sama
ketimpangan pendapatan pun meningkat yang diindikasikan dengan rasio
gini yang sebesar 0,28 pada tahun 2002 menjadi sebesar 0,34 pada
tahun 2005.
Hingga akhir 2007 ini, jumlah pengangguran pun masih
sekitar 10,55 juta jiwa atau 9,75%, sedangkan angka kemiskinan masih
bertengger sekitar 34,2 juta orang atau 17,3%, jauh dari target yang
ditetapkan pemerintah.
Sementara itu, Nilai Tukar Petani sekarang merupakan
yang terendah sejak 10 tahun terakhir. Pada saat yang sama
kesejahteraan buruh industri juga merosot, di mana upah riel buruh
industri juga tumbuh negatif selama satu tahun terakhir. Kemerosotan
sektor riil nampak pada merosotnya Indek Produksi Padat Karya,
seperti tekstil sebesar 11%, pakaian jadi sebesar 13%, dan barang
dari logam sebesar 10% (FRI, 2007).
Kehancuran
lingkungan hidup yang terus berlansung akibat over-eksploitasi
terindikasikan dengan berbagai bencana (seperti banjir, tanah
longsor, dan kebakaran hutan), pencemaran air, sungai, dan udara.
Ketidakberdayaan pemerintahan untuk mengelola lingkungan terkait
dengan liberalisasi SDA di mana banyak aset-aset SDA yang dikuasai
oleh modal asing dan domestik melalui kontrak-kontrak karya.
Bagaimana keluar dari kebuntuan jalan ini?
Jalan baru ekonomi-politik adalah sebuah keniscayaan
bagi bangsa Indonesia. Jalan baru ini bukan sekedar menunjukkan
mimpi ekonomi Indonesia di masa depan, melainkan jalan mana yang
perlu ditempuh untuk mewujudkannya.
Sebagai pedoman adalah ”Jalan Baru Pendiri bangsa” yang sudah
diletakkan 64 tahun yang lalu dan kita sia-siakan hingga hari ini.
Jalan itu ditekadkan untuk mengeluarkan Indonesia dari jalan lama
3,5 abad di bawah cengkeraman kolonialisme. Agenda jalan baru
tersebut adalah menghapus dominasi kolonialis (asing) dalam struktur
ekonomi Indonesia yang ditunjukkan dengan segelintir elit bangsa
Belanda (Eropa) yang menguasai banyak sumber daya Indonesia, bangsa
Timur Asing yang menguasai jalur distribusi, dan mayoritas massa
pribumi (ekonomi rakyat) Indonesia di lapisan terbawah.
Jalan itu ditumpukan pada tiga pilar utama, yaitu
demokratisasi perekonomian melalui koperasi, penguasaan negara atas
cabang-cabang produksi yang penting dan menguasai hajat hidup orang
banyak, dan penguasaan negara atas bumi, air, dan kekayaan alam yang
ada di Indonesia. Ketiga pilar ini kemudian diamanatkan dalam Pasal
33 ayat 1-3 UUD 1945.
Kini
Pemilihan Umum 2009
dapat dijadikan momentum untuk menegaskan perlunya jalan baru bagi
perekonomian Indonesia, yaitu (kembali ke) jalan demokrasi ekonomi
melalui sistem ekonomi kerakyatan. Sebagai langkah awal perlu segera
disusun visi bersama dan peta jalan (roadmap) yang akan
menjadi pedoman bagi segenap upaya demokratisasi ekonomi Indonesia.
Berdasarkan kerangka pikir itulah maka kami memandang perlunya
diselenggarakan
Seminar Nasional Ekonomi Kerakyatan dengan tema ”Konsepsi Ekonomi
Kerakyatan dalam Pengelolaan Aset (SDA) dan Perusahaan Strategis
(BUMN) Bangsa”.
II.
TUJUAN
Secara
khusus kegiatan seminar nasional ini bertujuan untuk:
1)
Mengkaji kondisi dan masalah struktural ekonomi Indonesia
dalam perspektif ekonomi kerakyatan.
2)
Mengkaji konsep dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam
mewujudkan kedaulatan pertanian dan pangan nasional.
3)
Mengkaji konsep dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam
pengelolaan hutan berbasis masyarakat.
4)
Mengkaji konsep dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam
pengelolaan sumber daya air.
5)
Mengkaji konsep dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam
pengelolaan perusahaan strategis (BUMN) Indonesia.
6)
Mengkaji konsep dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam
pengelolaan lingkungan.
7)
Mengkaji konsep dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam
pemberdayaan ekonomi rakyat dan koperasi.
III.
OUTPUT
Output
yang diharapkan dari seminar nasional ini adalah:
1)
Teridentifikasinya peta masalah struktural ekonomi Indonesia.
2)
Terumuskannya konsep dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam
mewujudkan kedaulatan pangan dan energi nasional.
3)
Terumuskannya konsep dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam
pengelolaan hutan berbasis masyarakat.
4)
Terumuskannya konsep dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam
pengelolaan sumber daya air.
5)
Terumuskannya konsep dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam
pengelolaan perusahaan strategis (BUMN) Indonesia.
6)
Terumuskannya konsep dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam
pengelolaan lingkungan.
7)
Terumuskannya konsep dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam
pemberdayaan ekonomi rakyat dan koperasi.
IV.
MATERI DAN PEMBICARA
Materi-materi yang akan dibahas menggunakan perspektif Ekonomi
kerakyatan dalam seminar nasional ini beserta pembicaranya adalah:
1)
Konsep dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam mewujudkan
kedaulatan pertanian dan pangan nasional (Prof. Dr. Mochammad Maksum
– Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan UGM).
2)
konsep dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam pengelolaan
hutan berbasis masyarakat (Prof. Dr. San Afri Awang, M.Sc – Pusat
Studi Ekonomi Kerakyatan UGM).
3)
konsep dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam pengelolaan
sumber daya air (Prof. Dr. Ir. Budi Susanto Wignyosukarto – Kopertis
V Yogyakarta)
4)
konsep dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam pengelolaan
perusahaan strategis (BUMN) di Indonesia (Drs. Revrisond Baswir, MBA
– Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM).
5)
konsep dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam pengelolaan
lingkungan hidup (Dr. Eko Sugiharto, DEA – Pusat Studi Lingkungan
Hidup UGM)
6)
konsep dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam pemberdayaan
ekonomi rakyat dan koperasi (Prof. Dr. Mudrajad Kuncoro, M.Sc –
Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM)
7)
konsep dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam skema REDD dan
climate change (Dr. Petrus Gunarso, MSc – Penggerak Kagama di
Kaltim)
V.
WAKTU DAN TEMPAT
Seminar nasional ini diselenggarakan pada Tanggal 6 Juni 2009
bertempat di Auditorium Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta jalan Agro No. 1 Yogyakarta.
VI.
SUSUNAN ACARA
|
Waktu WIB |
Kegiatan |
PIC |
|
08.30 – 09.00
09.00 – 09.30 |
Registrasi
Sambutan Pembukaan
1.
Kepala Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan
2.
Rektor Universitas Gadjah Mada |
Panitia
Prof. Dr. San Afri Awang
Prof. Dr. Soedjarwadi |
|
09.30
– 10.30
10.30
– 11.30
|
Sesi I
1)
Konsep
dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam pengelolaan hutan
berbasis masyarakat (Prof. Dr. San Afri Awang, M.Sc –
Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM).
2)
Konsep
dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam pengelolaan sumber
daya air (Prof. Dr. Ir. Budi Susanto Wignyosukarto –
Kopertis V Yogyakarta)
3)
Konsep
dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam pengelolaan
lingkungan hidup (Dr. Eko Sugiharto, DEA – Pusat Studi
Lingkungan Hidup UGM)
4)
Konsep
dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam skema REDD dan
climate change (Dr. Petrus Gunarso, MSc – Penggerak
Kagama di Kaltim)
Dialog dan Tanya-jawab |
Moderator:
Prof. Dr. Edy Suandi Hamid
|
|
11.30 – 13.00 |
ISOMA |
Panitia |
|
13.00
– 14.00
WIB
14.00
– 15.00
|
Paparan Sesi II
1)
Konsep dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam
mewujudkan kedaulatan pertanian dan pangan nasional
(Prof. Dr. Mochammad Maksum – Pusat Studi Pedesaan dan
Kawasan UGM).
2)
Konsep
dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam pemberdayaan
ekonomi rakyat dan koperasi (Prof. Dr. Mudrajad Kuncoro,
M.Sc – Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM)
3)
Konsep
dan aplikasi ekonomi kerakyatan dalam pengelolaan
perusahaan strategis (BUMN) di Indonesia (Drs. Revrisond
Baswir, MBA – Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM).
Dialog dan Tanya-jawab |
Moderator:
Drs. Dumairy, MA. |
|
15.00 – 15.10 |
PENUTUP |
|
Kembali ke Menu Sebelumnya...
|